Inspirasi dari Habibie
setelah menonton film yang diangkat dari True Story, yang bisa menjadi inspirasi dan bisa di-share ke teman-teman semua
Kisah cinta yang menarik dalam rentang waktu kebersamaan selama 48 tahun 10 hari hingga maut memisahkan. Kisah ini diambil dari kisah nyata tentang Presiden ketiga Indonesia dan ibu negara . Kisah yang menceritakan perjalanan hidup Pak Habibie dan juga kisah cintanya dengan Ibu Ainun. Kisah tentang apa yang terjadi bila kau menemukan belahan hatimu, kisah tentang cinta pertama dan cinta terakhir.
Setting awal dimulai ketika Habibie dan Ainun masih remaja, mereka memang bersekolah ditempat yang sama dan gurunya kala itu sempat bergurau dengan mengatakan kalau sebenarnya mereka berjodoh tapi Habibie menyangkalnya, ia malah mengatakan kalau Ainun itu hitam, jelek, gendut, seperti gula jawa.
Tahun demi tahun pun berlalu, Habibie yang berkuliah di Jerman terpaksa harus pulang ke Indonesia karena penyakit Tubercolosis yang dideritanya. Tetapi dari situlah cerita cinta Habibie dan Ainun berlanjut. Habibie akhirnya dipertemukan kembali dengan Ainun lewat kue yang harus diantarkannya ke rumah Ainun.
Ainun adalah seorang dokter muda yang cerdas dan telah berubah menjadi gadis muda nan cantik yang membuat Habibie jatuh hati. Karena kecantikannya banyak pria yang menaruh hati padanya. Dan kebanyakan pria yang menyukainya adalah pria yang berpangkat dan kaya, tapi Habibie sama sekali tidak minder. Dengan santainya ia datang ke rumah Ainun dengan menggunakan becak sedangkan para pesaingnya itu kebanyakan bermobil.
Hebatnya, Ainun sendiri tidak silau dengan itu semua, ia lebih memilih Habibie karena Ainun percaya pada visi dan mimpi Habibie. Ketika dilamar oleh Habibie, Ainun pun berkata “Saya tidak bisa, saya tidak bisa berjanji akan menjadi istri yang sempurna untukmu. tapi saya akan selalu mendampingimu, saya janji itu”. Dan akhirnya mereka pun hidup bersama dalam ikatan cinta yang saling memiliki, menyayangi dan menjadi manunggal satu sama lain karena Tuhan.
Setelah menikah, mereka pergi ke Jerman. Ainun rela melepaskan karir dan cita - citanya agar tetap bersama dan mendampingi Habibie untuk mewujudkan semua impian Habibie. Disana Habibie menyelesaikan studi S3-nya namun perjalanan hidup tidak semuanya berjalan dengan lancar, banyak lika-liku yang harus dijalani pasangan baru tersebut, terutama berkenaan dengan biaya hidup dan tempat tinggal yang harus dipenuhi, salah satu diantaranya adalah ketika Habibie sama sekali tidak memiliki uang untuk pulang kerumahnya, dan harus berjalan ditengah badai salju dengan sepatu yang bolong sampai harus ditambal dengan kertas agar ia bisa berjalan kembali. Ainun yang melihat kaki Habibie yang terluka ketika sampai rumah, tak tega dan meminta Habibie untuk memulangkannya ke Indonesia agar bisa membantu meringankan biaya Habibie selama di Jerman. Tetapi Habibie menyakinkan Ainun bahwa“Setiap ujung terowongan pasti ada cahaya, dan saya janji akan membawamu ke cahaya itu”.
‘Dinegeri orang dipuji, dinegeri sendiri dicaci.’ Mungkin itu kalimat tepat yang menggambarkan kondisi Habibie saat itu. Habibie yang dihormati di Jerman, ternyata tidak dihormati dinegerinya sendiri. Mimpi Habibie untuk bisa membangun tanah air tempat ia dilahirkan, mengalami hambatan. Dengan terpaksa ia menerima semua itu dengan lapang dada dan bekerja di Industri Kereta Api di Jerman.
Ujian yang terberat adalah ketika Habibie mengetahui bahwa Ainun menderita penyakit, Habibie sedih dan meminta Ainun untuk melakukan operasi agar penyakitnya hilang dan sehat kembali. Sesuai dengan harapan Habibie, operasi pun berjalan dengan lancar dan Ainun pun sedikit demi sedikit keadaannya membaik.
Karena kegigihan dan perjuangan Habibie, sampai akhirnya Habibie memiliki kesempatan untuk bisa mewujudkan mimpinya yaitu berharap bisa kembali ke Indonesia untuk membuat sebuah pesawat anak bangsa. Ia di beri kesempatan untuk membuat pesawat terbang dinegerinya sendiri. Setelah menjadi wakil direktur utma IPTN, kemudian ia diangkat menjadi menteri, kemudian menjadi wakil presiden dan akhirnya menjadi presiden menggantikan Soeharto yang lengser dari jabatannya.
Setiap kesuksesan pasti ada pengorbanan. Kesuksesan Habibie yang ingin mengabdikan diri pada negara, berdampak pada keluarganya. Ia tak lagi sempat menghabiskan waktu dengan keluarganya, bahkan untuk dirinya sendiri pun tidak. Ainun sangat mengkhawatirkan keadaan Habibie yang tidur hanya 1 jam setiap harinya. Ainun marah karena Habibie tidak menghiraukannya dan Ainun pun berkata “Mana bisa kamu memimpin 200 juta rakyat Indonesia, jika memimpin tubuhmu sendiri saja tidak bisa!”
“kamu itu orang paling keras kepala dan paling sulit yang pernah aku kenal, tapi kalau aku harus mengulang hidupku lagi, aku akan tetap memilih kamu” … Ainun.
Seperti pepatah apabila semakin di atas maka cobaannya pun akan semakin bertambah, itupun yang di alami oleh Habibie dan Ainun. Ketika Habibie tak mencalonkan diri sebagai presiden di pemilu berikutnya, ia pun kembali ke Jerman bersama dengan Ainun. Disana mereka hidup lebih tenang dan damai. Tapi ketenangan dan kedamaian itu tak bertahan lama. Ainun kembali sakit dan divonis menderita kanker ovarium stadium 4, meski Ainun sedang sakit parah Ainun sempat menuliskan daftar obat yang harus di minum oleh Habibie.
Ainun harus dirawat di rumah sakit dan menjalankan operasi berkali-kali. Jika dahulu Ainun yang harus senantiasa mendampingi Habibie dengan intensitas pekerjaannya yang tinggi, maka sekarang Habibie yang terus berupaya menemani, merawat dan menjaga dengan setia demi melakukan berbagai proses penyembuhan dan sampai akhirnya Ainun menutup mata untuk selama – lamanya.
Mana Mungkin Aku Setia…
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,dan kematian adalah sesuatu yang pasti,dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataanbahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada.“Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.”
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta,sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,Selamat jalan, calon bidadari surgaku ….
(Bacharuddin Jusuf Habibie, Habibie dan Ainun)
Penggalan puisi ini merupakan ungkapan kehilangan yang sangat dalam dari Habibie saat beliau harus merelakan sang istri, Ainun untuk pergi menghadap Tuhan terlebih dahulu.
Banyak Pelajaran yang bisa kita petik dari Film ini dan bisa kita aplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari maupun di tempat kerja antara lain :
1. Setiap mimpi dan cita–cita apabila diyakini dan dilakukan dengan usaha yang sungguh–sungguh pasti akan membuahkan hasil yang maksimal, hal ini bisa kita aplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari maupun di dunia kerja ketika mimpi dan cita-cita itu datang kita harus melakukan usaha yang terbaik untuk menggapai cita-cita dan mimpi tersebut dan yakinlah kita bisa untuk menggapainya.
2. Setiap Laki – laki yang hebat itu di-karenakan ada seseorang wanita yang hebat pula di belakangnya, serta dalam film ini kita diajarkan juga mengenai ketulusan cinta dan kesetiaan terhadap pasangan.
3. Kesabaran dalam menjalani hidup dan menghadapi segala rintangan yang ada di depan. Jadi hal ini bisa diartikan seberapa-pun berat kesulitan dan masalah yang kita hadapi baik di kehidupan sehari-hari maupun di pekerjaan dengan kesabaran pasti kita akan lebih mudah dan legowo dalam menghadapi masalah tersebut. Dan selalu ingatlah bahwa tuhan tidak akan memberikan kesulitan melebihi kemampuan hambanya.
4. Tanggung jawab sebagai pemimpin, pelajaran yang bisa diambil dari film ini, ketika sebuah keputusan tersebut harus diambil maka sebagai pemimpin harus bertanggung jawab dengan segala resiko dan konsekuensinya.
Semoga kedepannya penuh dengan CINTA, KEBAHAGIAAN dan KESUKSESAN untuk kita semua